$type=ticker$cols=4$label=hide$show=post

[Edisi Terbaru]_$type=three$m=0$rm=0$h=420$c=3$snippet=hide$label=hide$show=home

Dinamika Dakwah: Antara Peluang dan Tantangan

Sepanjang tahun 2015 umat Islam di tanah air melakukan agenda-agenda penting. Sebagian besar dari peristiwa ini disorot media nasional karena melibatkan ormas besar NU, Muhammadiyah dan MUI. Diprakarsai oleh MUI, umat Islam menggelar Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) pada 8-11 Februari 2015 di Yogyakarta. Kongres keenam ini mengambil tema ‘Penguatan Peran Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya Umat Islam untuk Indonesia yang Berkeadilan dan Berperadaban’.

Kongres ini menghasilkan kesepakatan yang dinamakan “Risalah Yogyakarta”. Salahsatu poin dari risalah ini menyerukan persatuan dan meneguhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 dengan mengakui Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Agenda Muktamar: Pergantian Kepemimpinan

Organisasi terbesar di tanah air Nahdhatul Ulama (NU) yang didirikan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H menggelar Muktamar Ke-33 di Jombang, Jawa Timur. Muktamar yang digelar sejak 1 Agustus hingga 5 Agustus 2015 dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) berhasil mengangkat Prof Dr Said Agil Siradj sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa bakti 2015-2010.

Muktamar ini dinilai banyak kalangan terjadi tarik menarik kepentingan antara kubu Said Agil Siradj dan KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dengan kubu KH Sholahuddin Wahid dan KH Hasyim Muzadi. Kekisruhan terjadi apakah menggunakan ahlul halli wal aqdi (Ahwa) atau vooting pada Muktamar itu. Di tenggah suasana atmosfer panas Muktamar, Gus Mus yang sedianya diplot sebagai Rais Aam PBNU mengundurkan diri. Posisi Rais Aam kemudian dijabat oleh KH Ma’ruf Amin.

Muktamar yang mengambil tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” menghasilkan tiga poin utama yang diusulkan Komisi Rekomendasi, yaitu: keumatan, kebangsaan, dan internasional. Rekomendasi muktamar untuk poin internasional diharapkan NU diharapkan untuk ikut terlibat aktif dalam mendamaikan konflik di sejumlah negara Timur Tengah.

Dua hari setelah Muktamar Ke-33 Nahdhatul Ulama (NU) dibuka oleh presiden, berikutnya Presiden Joko Widodo Muktamar Ke-47 Muhammadiyah di Makassar pada 3 Agustus 2015. Muktamar yang digelar pada 3-7 Agustus 2015 mendapat apresiasi oleh tokoh lintas agama.

Berbeda dengan Muktamar NU yang diwarnai kekisruhan, Muktamar Muhammadiyah berlangsung damai dan berjalan mulus. Muktamar berhasil mengangkat Haedar Nashir sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah yang baru dan Abdul Mu’ti sebagai Sekretaris Umumnya.

Isu penting yang diangkat pada Muktamar yang bertema “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” adalah isu keumatan. Mukatamar ini menghasilkan keputusan yang menekankan kasih sayang, kesantunan, dan sikap pertengahan. Pada rekomendasinya, Muhammadiyah mengkritisi paham ghuluw takfiri.

Terkait fenomena konflik Sunni-Syiah di Timur Tengah yang hendak ditransfer ke tanah air, muktamar merekomendasikan  untuk mencegah semakin meluasnya konflik Sunni dan Syiah di Indonesia. Muhammadiyah mengajak umat Islam untuk mengadakan dialog intraumat Islam serta mengembangkan pemahaman tentang perbedaan agama dan bersosialisasi meminimalisir konflik horizontal.

Selanjutnya pada bulan Agustus 2015 adalah Musyawarah Nasional (Munas) MUI IX di Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Jawa Timur. Tema Islam Wasathiyyah pada Munas itu diharapkan MUI menjadi tenda besar bagi umat Islam Indonesia. Agenda Munas yang digelar 24-27 Agustus 2015 ini mengeluarkan sejumlah rekomendasi terkait syariat yang terkait isu sektarian.

Pada Munas, KH Ma’ruf Amin terpilih sebagai ketua umum sekaligus memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020 melalui musyawarah mufakat oleh tim formatur pada Musyawarah Nasional IX di Surabaya, Kamis 27 Agustus 2015 dini hari.

Pada posisi sekretaris jenderal, tim formatur mempercayakan kepada Anwar Abbas yang dalam Munas IX kali ini menjabat sebagai ketua panitia pelaksana pusat. Sementara, di posisi wakil ketua umum diisi oleh dua orang, yakni Yunahar Ilyas dan Alamrhum KH Slamet Effendy Yusuf, serta bendahara umum dijabat oleh Amani Lubis.

Meskipun nampak beberapa tokoh pentolan dari NU dan Muhammadiyah, tetapi Munas MUI tidak menimbulkan persaingan dan perebutan kekuasaan maupun konflik didalamnya.

Isu Ekonomi Umat

Ada beberapa persoalan penting terkait dengan perekonomian. Diantaranya adalah persoalan BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan pada hakikatnya adalah asuransi sosial yang dipaksakan kepada seluruh rakyat. Dengan mewajibkan seluruh rakyat dalam asuransi itu, negara hendak berlepas tangan dari urusan layanan kesehatan rakyatnya. Apalagi dengan akadnya yang belum syariah pada layanan dan program jaminan sosial ini. Umat Islam merindukan penerapan ekonomi Islam, hingga muncul gagasan untuk membuat BPJS Syariah. Melibatkan MUI dan Otoritas Jasa Keuangan, rumusan BPJS Syariah insya Allah siap diimplementasikan tahun 2016 ini.

Krisis moneter juga masih membayangi negeri kita. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sempat menembus angka 14000 per Dolar AS. Sementara itu, Pemerintah terus menambah utang. Beban akibat utang yang makin menumpuk itu akan kembali ditanggung oleh rakyat. Disaat yang bersamaan beberapa komoditas publik seperti bensin, listrik dan gas harga semakin meroket. APBN 2016 yang ditetapkan pada Oktober 2015 semakin kapitalis dan memeras rakyat. Penerimaan makin bersandar pada pajak,  artinya pungutan terhadap rakyat akan makin besar. Subsidi untuk rakyat terus dikurangi, baik subsidi BBM, listrik, pupuk, dan lainnya. 

Persoalan keuangan ini menjadi rangkaian inflasi yang panjang dan semakin dalam. Wacana redenominasi mata uang menjadi pilihan yang akan diambil. Tugas pemerintah dalam membuat desain kebijakan ekonomi makro menjadi semakin berat. Ditambah lagi dengan penghapusan batasan ekonomi kawasan dalam kesepatakan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Perpanjangan kontrak Freeport oleh pemerintah yang berarti pengerukan kekayaan alam oleh asing juga menjadi pekerjaan rumah yang cukup sulit. Kedaulatan ekonomi semakin tergadaikan. Umat Islam perlu bangkit dari keterpurukan ini. 

Perbaikan Pendidikan

Pendidikan sebagai pilar peradaban menjadi hal yang paling strategis untuk dibahas maupun dikerjakan. Rusak proses dan praktek pendidikan membuat masyarakat menjadi bodoh dan lemah. Dalam konsep strategi kebudayaan, perbaikan pendidikan merupakan misi yang paling utama untuk diwujudkan (selain kepemimpinan yang kuat). Oleh karena itu, peran institusi pendidikan, mulai dari keluarga hingga sekolah dan masyarakat harus bisa membawa kehidupan manusia yang tinggal didalamnya menjadi lebih baik.

Pendidikan adalah usaha memanusiakan manusia. Bobroknya kinerja pendidikan nasional kita menunjukan mental dan semangat kita. Dibutuhkan segudang solusi dan serangkai perangkat untuk memperbaiki semuanya. Kononnya, persyarikatan Muhammadiyah telah mengambil porsi sekitar 30% dalam perannya mendidik masyarakat di Indonesia. jumlah lembaga pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah mencapai lebih dari 10 ribu, tepatnya 10.381 (tahun 2015). Terdiri dari TK, SD, SMP, SMA, pondok pesantren, dan perguruan tinggi. Untuk TK atau PTQ berjumlah 4623; SD/MI 2.604; SMP/MTS 1772; SMA/SMK/MA 1143; Ponpes 67; dan perguruan tinggi 172. Keseluruhan amal usaha yang dimiliki Muhammadiyah dalam bidang pendidikan ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia dari Aceh hingga Papua. 

Posisi Muhammadiyah sebagai raksasa pendidikan, sangan mempengaruhi perkembangan generasi selanjutnya. Dalam wawancaranya, tokoh cendikiawan Islam, Adian Husaini mengatakan bahwa masadepan Indonesia ada ditangan Muhammadiyah. Sementara itu, menurut pakar pendidikan Islam, Prof. Didin Hafidhuddin, umat Islam tidak boleh ketinggalan dalam soal pendidikan. Karena pendidikan adalah pilar-pilar kekuatan pilar. Didin Hafidhuddin menyerukan agar semua lembaga pendidikan Islam memiliki khiththah yang sama untuk mengembalikan pendidikan pada jalur yang benar. Yaitu pendidikan yang terintegrasi. []

KOMENTAR


Nama

Buya Risman,36,Edisi Terbaru,39,Ekonomi Islam,8,Ghazwul Fikri,6,Infografis,3,Khazanah,8,Kolom,73,Konsultasi,4,Mutiara Takwa,5,Opini,10,Sains,4,Sajian Khusus,17,Sajian Utama,50,
ltr
item
Majalah Tabligh: Dinamika Dakwah: Antara Peluang dan Tantangan
Dinamika Dakwah: Antara Peluang dan Tantangan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi47xc3jzA-6j3yaBwYw67wBCwJJ89pPdDLeN9rsylQa0pfIt36NYW-95nHurDjdi514XXFLnvW95Ry0ATOLejEckWU-2WrlTDbwXlJcWSAxs7vM4fr7gGULOhyphenhyphenTv8F5pOmEc6_p55oF5jX/s640/Sajian+Utama+-+Dinamika+Dakwah+Antara+Peluang+dan+Tantangan.png
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi47xc3jzA-6j3yaBwYw67wBCwJJ89pPdDLeN9rsylQa0pfIt36NYW-95nHurDjdi514XXFLnvW95Ry0ATOLejEckWU-2WrlTDbwXlJcWSAxs7vM4fr7gGULOhyphenhyphenTv8F5pOmEc6_p55oF5jX/s72-c/Sajian+Utama+-+Dinamika+Dakwah+Antara+Peluang+dan+Tantangan.png
Majalah Tabligh
https://www.majalahtabligh.com/2016/02/dinamika-dakwah-antara-peluang-dan.html
https://www.majalahtabligh.com/
https://www.majalahtabligh.com/
https://www.majalahtabligh.com/2016/02/dinamika-dakwah-antara-peluang-dan.html
true
945971881399728876
UTF-8
Muat semua Tidak ditemukan TAMPILKAN SEMUA Baca lagi Jawab Cancel reply Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS Tampilkan semua Rekomendasi untuk Anda UPDATE ARSIP CARI SEMUA POS Not found any post match with your request Kembali Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy