$type=ticker$cols=4$label=hide$show=post

[Edisi Terbaru]_$type=three$m=0$rm=0$h=420$c=3$snippet=hide$label=hide$show=home

Menabung, Investasi, Atau Barang?


Krisis moneter 10 tahunan, 1998, 2008 dan 2018 adalah Arisan Ritual Kapitalis (RAK) dalam meraup keuntungan kapital tanpa bisnis. Betapa tidak, dalam satu malam uang seseorang bisa berkurang drastis, karena nilai tukar mata uangnya melemah. Sehingga tidak dapat lagi membeli barang yang sama harganya dengan harga kemaren. Begitu juga sebaliknya, pemilik mata uang yang nilai tukarnya menguat, akan mendapat keuntungan spekulatif. Nilai uangnya bertambah secara tiba-tiba. Sehingga dia dapat membeli barang yang lebih banyak dari pada seharusnya. Dalam ajaran Islam uang seperti itu termasuk subhat.

Celakanya, fluktuasi nilai tukar mata uang dapat terjadi karena pengaruh politik, pengaruh kekuatan militer atau pengaruh bencana alam. Fluktuasi nilai tukar mata uang, yang semata-mata akibat pengaruh ekonomi jarang terjadi. Karena hukum ekonomi itu adalah bagai hukum alam. Dia dapat mengatasi sendiri problematikanya, termasuk problematika ekonomi dan problematika keuangan. Dewasa ini, muncul kecenderungan baru bersatunya Tri kuasa yaitu konglomerat, birokkat dan media massa. Inti dari tri kuasa itu adalah konglomerat. Uanglah yang berkuasa. Di banyak negara yang menerapkan demokrasi barat, ada kecederungan pemenang pemilu adalah pemilik modal besar atau yang didukung pemilik modal besar.

Demikian juga media massa, kalau dahulu pemilik media massa adalah seorang ideolog yang punya misi sebagai stabisator politik. Namun Saat ini sudah beralih, menjadi sarana bisnis murni. Pemilik media massa adalah konglo merat atau pengusaha besar, yang berorientasi mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Bersatunya tiga kekuatan besar, pengusaha, peguasa dan media massa, berpotensi terjadinya penindasan orang kaya atas orang miskin. Karena tidak ada lagi yang akan membela rakyat kecil. Penguasa akan membela pengusaha. Demikian juga media massa akan membela pengusaha. Tinggallah rakyat kecil sebatang kara, tidak ada yang akan membelanya.

Lantas bagaimana rakyat bisa bangkit dari persekongkokolan penguasa, pengusaha dan media massa ? bagaimana rakyat bisa berdiri di atas kaki sendiri dalam bidang ekonomi ? Ada beberapa langkah yang harus ditempuh; pertama, Setiap orang harus memperkuat keterampilan hidup, seperti internet, komputer, industri kelautan, pertukangan, pertanian dll. Dengan keterampilan ini setiap orang dapat membuka lapangan kerja, baik untuk dirinya ataupun untuk orang lain. Dengan keterampilan hidup ini, juga bisa digunakan untuk mencari pekerjaan di tempat lain.

Kedua; Menanam investasi di sektor ril lebih aman dari menyimpan uang. Dalam suasana fluktuasi nilai tukar mata uang,, uang yang disimpan, tiba-tiba bisa berkurang karena nilai tukar melemah. Maka setiap orang harus segera menukarkan uangnya menjadi barang produktif. Membeli barang produktif bisa mendatangkan hasil bagi pemiliknya dan lapangan kerja bagi orang lain. Jangan ada lahan yang terlantar. Islam mencela orang yang membiarkan lahannya terlantar, sebagaimana juga dilarang menumpuk uang, karena tidak bermanfaat. Lebih baik menyimpan barang dari pada menyimpan uang. Menyimpan barang yang bisa menghasilkan seperti kebun, sawah, toko, rumah, pabrik dll. Pertanian juga baik untuk penguatan ekonmi, dapat memberikan harapan besar. Usaha pertanian lebih menjanjikan dengan keuntungan berlipat ganda. Bagaikan menanam sebutir padi, dapat menghasil 250 butir padi.

Ketiga; menabung dalam bentuk emas batangan. Tabungan ini dapat memberikan kestabilan harga barang, karena harga emas tidak akan mengalami penurunan, sebagaimana nilai tukar uang. Langkah penguatan ekonomi rakyat ini, dapat menjadi gerakan rakyat semesta untuk menghadapi persekongkolan penguasa, pengusaha dan media massa, dalam menguasai ekonomi rakyat dalam suatu negara. Rakyat harus bangkit. Rakyat harus mandiri. Rakyat harus bisa berdikari, berdiri diatas kaki sendiri. Rakyat bahagia , Indonesia jaya. [FrenS, Juni'20])



Oleh Fakhrurazi Reno Sutan
Dosen Muamalah Fakultas Agama Islam UMJ
fakhrurazi.umj.ac.id

KOMENTAR

BLOGGER: 1
  1. Assalamu alaikum wr wb.....
    Realita ekonomi itu bagaikan hukum rimba.....
    Hanya norma dan hukumlah yg bisa mengendalikannya....

    BalasHapus


Nama

Buya Risman,36,Edisi Terbaru,39,Ekonomi Islam,8,Ghazwul Fikri,6,Infografis,3,Khazanah,8,Kolom,73,Konsultasi,4,Mutiara Takwa,5,Opini,10,Sains,4,Sajian Khusus,17,Sajian Utama,50,
ltr
item
Majalah Tabligh: Menabung, Investasi, Atau Barang?
Menabung, Investasi, Atau Barang?
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjS0aa1_7cRgi4S72RJ05FFdd0MToawTyWLaCUNKtCX-hbRHNcdaQrxNZWXUgY3xZPcEdkVCf6UjAyM7AErWmbQoq7-tVKFNGKYjdGkr9jwCNhnHwMcW8vF5WcAPs4-9Ww9Po1mlqRx_oc/s320/Frens.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjS0aa1_7cRgi4S72RJ05FFdd0MToawTyWLaCUNKtCX-hbRHNcdaQrxNZWXUgY3xZPcEdkVCf6UjAyM7AErWmbQoq7-tVKFNGKYjdGkr9jwCNhnHwMcW8vF5WcAPs4-9Ww9Po1mlqRx_oc/s72-c/Frens.jpg
Majalah Tabligh
https://www.majalahtabligh.com/2020/06/menabung-investasi-atau-barang.html
https://www.majalahtabligh.com/
https://www.majalahtabligh.com/
https://www.majalahtabligh.com/2020/06/menabung-investasi-atau-barang.html
true
945971881399728876
UTF-8
Muat semua Tidak ditemukan TAMPILKAN SEMUA Baca lagi Jawab Cancel reply Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS Tampilkan semua Rekomendasi untuk Anda UPDATE ARSIP CARI SEMUA POS Not found any post match with your request Kembali Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy