$type=ticker$cols=4$label=hide$show=post

[Edisi Terbaru]_$type=three$m=0$rm=0$h=420$c=3$snippet=hide$label=hide$show=home

Dakwah Tauhid yang Berkemajuan

 


Oleh: Beggy Rizkiyansyah
Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

 

Metaverse, unicorn, artificial intelligence, alogaritma, adalah sederet kata-kata yang menjadi seperti mantra saat ini. Seakan-akan kata-kata tersebut melambangkan kemajuan dan kecanggihan. Para pejabat membuat kata-kata seperti ini menjadi satu tolok ukur kemajuan. Kita boleh setuju atau tidak setuju, tetapi di balik istilah-istilah canggih ini ternyata masyarakat kita masih belum bisa lepas dari fenomena kesyirikan.

Seiring dengan istilah-istilah canggih tadi, masyarakat kita nyatanya saat ini juga masih berkelindan dengan istilah-istilah terbelakang seperti pesugihan,,sesajen, dukun, roh halus, dedemit, santet dan semacamnya. Mengapa masyarakat kita yang bergawai canggih masih pula percaya hal-hal mistis yang menyeret pada jurang kemusyrikan? Meski terlihat bertolak belakang, nyatanya hal-hal ini masih membelit masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam.

Belum lama ada fenomena sesajen di Gunung Semeru. Atau kisah tragis orang tua yang mencongkel mata anaknya sendiri di Gowa, Sulawesi, demi praktek pesugihan. Atau simak pula betapa konyolnya para selebriti yang memakan bualan boneka arwah. Dan bukan sekali dua kali kita melihat peresmian proyek pemerintah yang masih dihiasi tradisi-tradisi tahayul yang merendahkan akal sehat.

Demikianlah kenyataan yang menyedihkan tersebut. Praktek tahayul, bid’ah dan churafat (TBC) masih menyelimuti masyarakat kita saat ini. Dan semakin mengherankan ketika praktek semacam ini mendapat pembelaan dari sebagian pihak yang melabelinya sebagai “kearifan lokal.”

Padahal praktek semacam ini telah dibasmi oleh ormas Islam termasuk Muhammadiyah sejak lama. Muhammadiyah menjadi salah satu ormas Islam terdepan dalam membasmi praktek tahayul, bid’ah dan churafat (TBC) sejak masa kolonial.

Ulama Muhammadiyah, K.H. Mas Mansur bahkan sampai harus menulis satu tulisan khusus yang membahas praktek durjana ini. Dalam tulisannya yang berjudul Risalah Tauhid dan Sjirik ini ia menegaskan bahwa,

“Kitapun harus mendjaga serta menolak segala serangan musuh Islam, agar djangan sampai agama kita ditjampuri oleh rupa2 faham dan kepertjajaan jang bukan2 dan djangan pula kaum Muslimin terpengaruh oleh rupa2 daja upajanya perusak dan penipu atau pendjual agama.” [K.H. Mas Mansur: 1970]

Praktek kemusyrikan ini begitu tercela sehingga menurut K.H. Mas Mansur, menyebabkan kaum muslimin “…lemah imanja, hilang tenaganja, habis iradatnja, timbul malasnja dan habis harta bendana, achirnja mendjadi orang jang hina, lemah, miskin dan bodoh keadaannja.” [K.H. Mas Mansur: 1970]

Bahkan Presiden Sukarno turut bersimpati dengan pendirian Muhammadiyah dalam memberantas praktek kemusyrikan. Menurutnya, Muhammadiyah adalah garda terdepan dalam persoalan ini. Menurut Presiden R.I. pertama tersebut,

“Bagi saya Muhammadiyah adalah itu Saudara-Saudara, purification of the mind, rejuvenation of the Islam creed. Karena itu maka saya khintil Kiai Ahmad Dahlan menjadi anggota Muhammadiyah setia kepada Muhammadiyah. Oleh karena sesuatu bangsa, sesuatu agama hanyalah kuat, jikalau ia punya mind tidak dikotor-kotorkan oleh khurafat-khurafat yang tidak benar, oleh bid’ah-bid’ah yang menyalahi principle-principle pokok.” [Sukarno: 1990]

Begitu semangatnya Muhammadiyah dalam menggencarkan dakwah tauhid, hingga tak mengherankan jika Muhammadiyah kerap dituding sebagai kaum wahabi. Menurut Buya Hamka hal itu bukan masalah. Sebab,

“Bagi kami yang dikatakan kaum-muda itu tidaklah keberatan jika dituduhkan Wahabi. Kalau 20 atau 30 tahun yang lalu semasa pengetahuan tentang agama hanya boleh dipercayai oleh mufti-mufti saja, mungkin orang takut dikatakan Wahabi.

Tetapi sekarang orang telah tahu pula bahwasanya Wahabi tidak-lain daripada penganut mahzab Hambali dan memang mahzab Hambali terkenal mahzab yang keras mempertahankan sunah. Dan yang berpengaruh memperbarui mahzab Hambali itu ialah Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim. Oleh sebab itu, bagi kami dituduh Wahabi bukanlah penghinaan.

Jika dituduh pula kami pengikut Ibnu Taimiyah atau Ibnu Qayyim, maka tidaklah pula bagi kami penghinaan. Kaum-tua pun suka kepada kitab "Zaadul Ma’ad” karangan Ibnu Qayyim seperti kami juga.” [Hamka: tanpa tahun]

Dan Muhammadiyah memang bukan kaum wahabi. K.H. A.R. Fakhruddin menjelaskan bahwa cara dakwah Muhammadiyah sudah jelas:

“Muhammadiyah tidak setuju kalau semua ahli bid’ah itu hanya dicaci-maki, dikutuk, dilaknati, dikatakan masuk neraka dan sebagainya. Menurut Muhammadiyah demikian itu bukan menambah dekat malahan menambah jauh. Muhammadiyah cukup menunjukkan amalan-amalan dan hal-hal yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Kepada mereka kaum muslimin yang masih suka kepada bid’ah itu adalah terserah mereka, Muhammadiyah akan terus bekerja memberikan penerangan dan penjelasan-penjelasan tentang amal-amal ibadah yang menurut sunnah Rasulullah, menurut Al-Qur’an dan Hadis dan terus mengajaknya,” demikian jelas Pak AR. [K.H. A.R. Fachruddin: 2005]

Ketua umum Muhammadiyah terlama tersebut juga mengingatkan,bahwa "Dakwah artinya mengajak-ngajak atau menarik atau menyeru-nyeru. Oleh Muhammadiyah difahami dan dimaklumi, bahwa orang yang belum masuk Muhammadiyah bukan karena benci tetapi karena belum mengerti apa dan siapa Muhammadiyah itu," jelas Pak AR. [K.H. A.R. Fachruddin : 2005]

Tokoh Muhammadiyah lainnya, K.H. Farid Ma’ruf,,  juga mengingatkan hal penting yang menjadi ciri khas dari dakwah K.H. Ahmad Dahlan. Salah satunya adalah bijaksana dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya dan tidak tergesa-gesa serta menggunakan akal pikirannya. Dalam hal ini dakwah berarti benar-benar ditimbang dari berbagai segi dengan tenang dan dipikirkan secara matang. [K.H. Farid Ma’ruf: 1964]

Disinilah pentingnya pengumpulan informasi sebelum melakukan dakwah. Hal ini sebenarnya ditunjukkan oleh K.H. Ahmad Dahlan ketika hendak mengurus persoalan haji umat Islam kita di tanah suci. Beliau mengutus Haji Fachrodin untuk menyelidiki kondisi umat Islam dalam melakukan ibadah haji di tanah suci pada tahun 1921. Haji Fachrodin dalam catatan Mu’arif (2010) kemudian membuat laporan kepada publik atas penyelidikannya. Laporan (verslag) perjalanan ini kemudian diterbitkan dalam surat kabar Islam Bergerak yang dipimpin oleh Haji Misbach di Solo dan dimuat kembali beberapa seri sejak Swara Moehammadijah edisi No. 2 tahun ke-3 tahun 1922.

Di sinilah kita melihat betapa para tokoh Muhammadiyah sebenarnya telah melakukan riset sebelum memutuskan kebijakan dakwah. Riset atau pengumpulan informasi dan analisis menjadi bagian penting dari dakwah. Penyelidikan terhadap obyek dakwah, situasi dan kondisi medan dakwah dan tantangan serta pemetaan dalam sebuah rencana dakwah menjadi satu rangkaian yang harus dipersiapkan dalam berdakwah.

Dari riset inilah kemudian masalah-masalah dan rintangan dapat diminimalisir sehingga dakwah tidak menimbulkan dampak yang negatif di masyarakat. Tentu bukan esensi dakwahnya yang keliru. Tetapi cara-cara yang kurang tepat terkadang malah dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Masalah tendangan pada sesajen yang terjadi baru-baru ini sebenarnya adalah contoh sederhana cara menjadi penting dalam berdakwah. 

Informasi mengenai kondisi masyarakat, bagaimana pemetaan praktek keagamaan di satu masyarakat dan apakah cara yang tepat untuk diterapkan menentukan masa depan dakwah itu sendiri? Adalah sebagian persoalan yang harus diketahui sebelum menjalankan dakwah. Dakwah tauhid yang membara tidaklah cukup untuk menentukan efektivitas dakwah tersebut. Di sinilah kita kembali mengingat metode dakwah K.H. Ahmad Dahlan, yaitu bijaksana dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya dan tidak tergesa-gesa serta menggunakan akal pikirannya. Dalam hal ini dakwah berarti benar-benar ditimbang dari berbagai segi dengan tenang dan dipikirkan secara matang.

Perencanaan yang matang akan menghindarkan kita dari ketergesaan dan akhirnya dapat memutuskan dengan tenang berbagai seginya. Menimbang-nimbang apakah cara yang dilakukan berdampak baik atau malah berbalik merugikan dakwah itu sendiri?

Di masa kini, tidak semua hal harus disebarkan, diunggah dan didorong menjadi viral. Terkadang dakwah dalam sunyi menjadi lebih efektif ketimbang dakwah dalam keriuhan dan sorot mata banyak orang atau bersikap frontal. Kita tentu mengingat bagaimana cara Pak AR dalam menghindari tekanan dan represi rezim Orde Baru terhadap dakwah Muhammadiyah.

Ketika rezim orba menerapkan monoloyalitas kepada Pegawai Negeri Sipil. Mereka harus menjadi anggota Korpri dan tidak boleh menjadi anggota organisasi lain termasuk Muhammadiyah. Pak AR menawar kebijakan tersebut kepada Menteri Dalam Negeri, Amir Machmud. Namun ia tetap bersikukuh. Akhirnya Pak AR berkata, “Baiklah Pak Amir, kalau memang terpaksa anggota Muhammadiyah  yang menjadi pegawai negeri harus mengundurkan diri, saya mohon bekas anggota-anggota Muhammadiyah itu diperbolehkan mengadakan pengajian”.
“Oo, kalau itu tidak ada masalah. Kalau mereka mau mengadakan pengajian malah saya bantu” kata Amir Mahmud. Akhirnya pengajian di kantor-kantor pemerintahan malah marak.
[http://www.suaramuhammadiyah.id/2016/04/29/menyikapi-monoloyalitas/]

Pak AR bisa saja mengangkat persoalan ini ke khalayak ramai, bersikap frontal dan terbuka. Namun jalan itu tak dipilihnya. Baginya yang paling penting bukan soal keanggotaan Muhammadiyah, melainkan dakwah lewat pengajian di kantor pemerintahan itu tetap berjalan. Tanpa ketenangan, pertimbangan yang matang dan pengetahuan mengenai watak rezim Orde Baru, tentu hal ini tak mungkin terjadi.

Oleh sebab itu di era informasi yang meluber saat ini, riset yang mendahului dakwah menjadi sangat penting. Tidak semua harus diungkap terbuka ke publik (viral). Sebaliknya, penyelidikan mendalam terhadap situasi dan obyek dakwah adalah satu hal krusial yang harus dilakukan sebelum memilih jalan berdakwah yang tepat. Di snilah umat Islam, termasuk Muhammadiyah memerlukan lembaga atau divisi riset yang mumpuni sehingga setiap kebijakan dakwah didasarkan atas pengetahuan, analisis dan pertimbangan yang matang dan menghasilkan dakwah tauhid yang berkemajuan. Sudahkah kita, umat Islam, memiliki lembaga riset atau think-thank yang berkualitas untuk menopang dakwah? []

*) Tulisan ini telah diterbitkan pada Majalah Tabligh edisi Februari 2022 



KOMENTAR


Nama

Buya Risman,36,Edisi Terbaru,31,Ekonomi Islam,8,Ghazwul Fikri,6,Infografis,3,Khazanah,8,Kolom,73,Konsultasi,4,Mutiara Takwa,5,Opini,9,Sains,4,Sajian Khusus,17,Sajian Utama,42,
ltr
item
Majalah Tabligh: Dakwah Tauhid yang Berkemajuan
Dakwah Tauhid yang Berkemajuan
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjf7v8iRPwH9yRJ8FYAjZhQyOLM5QRXU6nRHm7alEb5lEl19JZq_1piikhZKVXTCBi7a6kzH6Dt0qDPWzLY7Y4J_2k_Bb87k_fzkop6niEv0gpHHJUzL3M9ftsluMbdK2G66x6bHmF-d3qptYNl_C6lw4eszC81q_gqMftaBIvBN2L8bPBnWGO3uCKS=s320
https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjf7v8iRPwH9yRJ8FYAjZhQyOLM5QRXU6nRHm7alEb5lEl19JZq_1piikhZKVXTCBi7a6kzH6Dt0qDPWzLY7Y4J_2k_Bb87k_fzkop6niEv0gpHHJUzL3M9ftsluMbdK2G66x6bHmF-d3qptYNl_C6lw4eszC81q_gqMftaBIvBN2L8bPBnWGO3uCKS=s72-c
Majalah Tabligh
https://www.majalahtabligh.com/2022/02/dakwah-tauhid-yang-berkemajuan.html
https://www.majalahtabligh.com/
https://www.majalahtabligh.com/
https://www.majalahtabligh.com/2022/02/dakwah-tauhid-yang-berkemajuan.html
true
945971881399728876
UTF-8
Muat semua Tidak ditemukan TAMPILKAN SEMUA Baca lagi Jawab Cancel reply Hapus Oleh Beranda PAGES POSTS Tampilkan semua Rekomendasi untuk Anda UPDATE ARSIP CARI SEMUA POS Not found any post match with your request Kembali Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy